|
حجم الخط
Lensa Jurnalis Akram Al-Nahdi merekam persiapan kota pada hari Selasa, ketika pasar rakyat mulai tergerai untuk menyambut para tamunya, musim ziarah ini berjalan 10 hari, dimana para ulama, dan pejabat juga seluruh elemen masyarakat berbaur mulai hari Rabu.
Ziarah Masyhad bukan hanya momen rohani, tapi juga momen niaga yang menggerakkan pasar lokal berpuluh-puluh tahun.
Tampak di sana gerai-gerai makanan, manisan, mainan anak-anak, pakaian, sandal emas, perak, perhiasan, restoran rakyat, parfum dan wewangian, dan berbagai produk lokal warga, yang menjadikan lorong-lorong kota menjadi denyut nadi ekonomi warga, mengingatkan perjumpaan sekali setahun untuk bertukar suka cita.
Diantara para pedagang ada menyampaikan bahwa dia sudah berziarah di Masyhad sejak 40 tahun lalu dan memanfaatkan momen niaga di ziarah ini.
Sebelum ziarah kota Al-Masyhad mempersiapkan dirinya dengan berbagai persiapan kebersihan, koordinasi, pasar, dan titik-titik konsentrasi para tamu, untuk memberikan pelayanan yang memadai bagi para tamu.
Ziarah ini mengikat para tamunya dengan budaya dan tardisi religi turun menurun dimana para pejabat, saudagar, ulama, dan semua elemen masyarakat berbaur secara jasmani dan rohani, namun ziarah tahun ini diwarnai dengan ketidakhadiran Munsib Alwi Al-Attas sebab sakit dan diwakili oleh saudaranya Ahmad Bin Hadun Al-Attas dan putra-putra Habib Alwi, Abdullah Alawi dan Muhammad Bin Alawi.
Ziarah Al-Masyhad momen menghadirkan sejarah di masa ini, mengumpulkan jasmani dan rohani, merukunkan seluruh elemen warga, pejabat, ulama, kabilah, saudagar, rakyat biasa semua berbaur di dalam suasana indah.
Baca juga